![]() |
| Guru sedang berdiskusi dengan siswa tentang menulis di kelas Bahasa Indonesia. |
Mengapa Banyak Tulisan Siswa Terlihat Pintar Tapi Tidak Jelas?
Di tempat saya mengajar, di Sekolah Marie Joseph, ada satu hal menarik yang sering saya perhatikan, terutama di kelas-kelas IPA. Anak-anak di kelas ini memiliki kebiasaan yang cukup khas: mereka ingin segala sesuatu terlihat sempurna.
Tulisan mereka rapi. Kata-katanya dipilih dengan hati-hati. Bahkan kadang terasa terlalu serius.
Sebagai guru Bahasa Indonesia, hampir semua kegiatan belajar di kelas pada akhirnya bermuara pada teks. Mengikuti alur pembelajaran dalam taksonomi Bloom, setiap topik biasanya diakhiri dengan sebuah proyek menulis. Kadang mereka menulis cerpen, kadang teks eksposisi, kadang juga artikel sederhana.
Dan di momen-momen seperti itulah percakapan kecil ini sering terjadi.
“Pak, tulisan saya sudah bagus belum?”
Seorang siswa berdiri di depan meja saya sambil membawa buku tulis. Wajahnya penuh harap. Di halaman itu ada paragraf panjang yang sekilas terlihat meyakinkan.
Saya mulai membaca perlahan.
Kalimatnya panjang.
Istilahnya cukup rumit.
Beberapa kata terasa seperti baru keluar dari kamus besar.
Saya membaca satu halaman penuh.
Lalu berhenti sejenak.
“Hmm… menarik,” kata saya.
“Jadi bagus, Pak?” tanyanya cepat.
Saya tersenyum sedikit.
“Masalahnya bukan bagus atau tidak,” jawab saya pelan.
“Masalahnya… saya tidak tahu kamu sedang membicarakan apa.”
Siswa itu terdiam.
Dan di situlah sebenarnya persoalan banyak tulisan siswa sering bermula.
Tulisan mereka terlihat pintar.
Tetapi tidak selalu jelas.
Ketika Tulisan Menjadi Panggung Kata-Kata
Fenomena seperti ini sebenarnya cukup sering muncul di sekolah, terutama ketika siswa mulai belajar menulis esai, artikel, atau karya ilmiah.
Banyak dari mereka memiliki anggapan yang sama:
semakin rumit kata-kata yang digunakan, semakin terlihat pintar tulisannya.
Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian.
Saya pernah menemukan kalimat seperti ini di sebuah tugas siswa:
Saya membaca sekali.
Lalu membaca lagi.
Masih terasa berat.
Akhirnya saya memanggil penulisnya.
“Coba jelaskan maksud kalimat ini,” kata saya.
Ia berpikir sebentar, lalu menjawab dengan sangat sederhana.
“Anak muda harus ikut membangun masyarakat, Pak.”
Saya tertawa kecil.
“Kenapa tidak tulis saja seperti itu?”
Ia mengangkat bahu.
“Soalnya… kalau terlalu sederhana takut terlihat tidak pintar.”
Jawaban itu jujur sekali.
Dan mungkin banyak siswa merasakan hal yang sama.
Mereka sering merasa bahwa tulisan yang baik harus terdengar akademis. Harus terlihat berat. Harus penuh istilah.
Padahal sering kali justru di situlah makna tulisan mulai kabur.
Pola Kesalahan yang Sering Saya Temui
Setelah membaca cukup banyak tugas siswa selama beberapa tahun mengajar, saya mulai melihat pola yang berulang. Kesalahan mereka hampir selalu mirip.
1. Terlalu Banyak Kata Besar
Beberapa siswa gemar menggunakan istilah akademik, bahkan ketika sebenarnya tidak terlalu diperlukan.
Misalnya seperti ini.
Versi siswa:
Padahal jika ditulis sederhana, maknanya tetap sama.
Versi sederhana:
Maknanya tidak berubah.
Tetapi kalimat kedua jauh lebih mudah dipahami.
2. Kalimat Terlalu Panjang
Kesalahan kedua yang sering muncul adalah kalimat yang terlalu panjang. Kadang satu kalimat bisa memuat begitu banyak gagasan sekaligus.
Contohnya seperti ini:
Kalimat seperti ini sebenarnya bisa dipotong menjadi lebih jernih.
Misalnya:
Maknanya tetap sama.
Tetapi napas kalimatnya jauh lebih ringan.
3. Ide yang Tidak Terstruktur
Kesalahan lain yang sering muncul adalah terlalu banyak ide dalam satu paragraf.
Saya pernah bertanya kepada seorang siswa setelah membaca tulisannya.
“Ini sebenarnya tentang apa?”
Ia menjawab jujur.
“Banyak, Pak.”
Jawaban itu membuat saya tersenyum.
Karena di situlah masalahnya.
Tulisan yang baik biasanya mengikuti alur sederhana:
Ide utama
Penjelasan
Contoh
Jika semuanya bercampur tanpa urutan, pembaca akan cepat kehilangan arah.
Sebuah Percakapan di Dalam Kelas
Suatu hari, saya mencoba membuat eksperimen kecil di kelas.
Saya menulis dua kalimat di papan tulis.
Kalimat pertama berbunyi:
Kalimat kedua lebih sederhana:
Saya lalu bertanya kepada kelas.
“Mana yang lebih mudah dipahami?”
Hampir semua siswa menunjuk kalimat kedua.
“Kenapa?” saya bertanya lagi.
Seorang siswa menjawab spontan,
“Karena langsung mengerti, Pak.”
Saya mengangguk.
“Menulis bukan soal membuat pembaca kagum,” kata saya.
“Menulis adalah membuat pembaca mengerti.”
Kelas menjadi sedikit lebih sunyi.
Kadang-kadang, pelajaran menulis memang sesederhana itu.
Rahasia Tulisan yang Lebih Jelas
Dari berbagai pengalaman di kelas, ada beberapa prinsip sederhana yang selalu saya sampaikan kepada siswa ketika mereka mulai belajar menulis.
1. Gunakan Bahasa yang Kamu Pahami
Jika kamu sendiri kesulitan menjelaskan sebuah kata kepada temanmu, kemungkinan besar kata itu belum perlu kamu gunakan dalam tulisan.
Tulisan yang jujur biasanya jauh lebih kuat daripada tulisan yang dipaksakan terlihat pintar.
2. Satu Paragraf, Satu Ide
Paragraf sebenarnya adalah ruang kecil untuk satu gagasan.
Bukan tempat menumpuk banyak pikiran sekaligus.
Misalnya seperti ini.
Paragraf kurang fokus:
Paragraf lebih terarah:
Satu ide.
Satu arah.
Pembaca lebih mudah mengikuti.
3. Gunakan Contoh Nyata
Tulisan akan terasa lebih hidup jika disertai contoh.
Misalnya kalimat ini:
Kalimat itu benar, tetapi masih terasa umum.
Jika diberi contoh, tulisannya menjadi lebih dekat dengan pengalaman pembaca.
Contoh membuat tulisan terasa nyata.
Menulis Bukan Lomba Kata-Kata
Suatu hari saya pernah berkata kepada siswa:
“Kalau tulisanmu harus dibaca tiga kali untuk dipahami, berarti ada yang salah.”
Seorang siswa langsung tertawa.
“Berarti tulisan saya sering salah, Pak.”
Saya ikut tersenyum.
“Tidak apa-apa,” jawab saya.
“Menulis memang proses belajar seumur hidup.”
Karena sebenarnya menulis bukan lomba siapa yang paling rumit kata-katanya.
Menulis adalah cara menyampaikan pikiran.
Dan sering kali, semakin jernih pikiran seseorang, semakin sederhana pula tulisannya.
Ketika Tulisan Menjadi Lebih Jujur
Hal yang menarik terjadi ketika siswa mulai berani menulis dengan bahasa mereka sendiri.
Tulisan mereka perlahan berubah.
Lebih hidup.
Lebih personal.
Lebih terasa seperti percakapan.
Ada pengalaman di dalamnya.
Ada cerita kecil yang nyata.
Ada suara mereka sendiri.
Tulisan tidak lagi terasa seperti laporan yang kaku.
Tulisan mulai terasa seperti manusia yang sedang berbicara.
Dan di situlah menulis mulai menjadi menarik.
Penutup: Sebuah Pertanyaan Sederhana
Pada akhir pelajaran menulis, saya sering memberikan satu pertanyaan sederhana kepada siswa.
Bukan tentang teori menulis.
Bukan tentang tata bahasa.
Saya hanya bertanya:
Jika seseorang membaca tulisanmu,
apakah ia akan benar-benar mengerti apa yang kamu maksud?
Atau justru ia hanya merasa tulisanmu terlihat pintar…
tetapi tidak benar-benar memahami isinya?
Barangkali dari pertanyaan sederhana itu kita semua bisa mulai belajar lagi tentang satu hal yang sering terlupakan dalam menulis:
kejelasan.
Barangkali dalam menulis kita sering lupa satu hal sederhana: tulisan bukan untuk terlihat pintar, tetapi untuk dipahami.



