Sebagai seorang pelajar, saya menyadari bahwa masa remaja adalah waktu yang penuh dengan pencarian jati diri. Di sekolah, saya tidak hanya belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga belajar bagaimana membentuk karakter dan kepribadian. Di sekolah Marie Joseph, kami diajarkan lima nilai kefransiskanan: kesederhanaan, peduli lingkungan, persaudaraan, pertobatan, dan pelayanan. Nilai-nilai ini tidak muncul begitu saja, melainkan berakar dari teladan Santo Fransiskus dari Asisi. SMA Marie Joseph sebagai sekolah Katolik, berpegang teguh pada ajaran Santo Fransiskus dari Asisi. Beliau adalah sosok yang mengajarkan pentingnya hidup dalam pertobatan. Santo Fransiskus menunjukkan bahwa pertobatan bukan sekadar mengakui kesalahan, tetapi juga keberanian untuk berubah, memperbaiki diri, dan hidup lebih dekat dengan Tuhan.
Dari ajaran itulah saya belajar bahwa pertobatan bukan hanya soal doa, tetapi juga soal tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari belajar jujur, disiplin, rajin, hingga mau mengakui kesalahan dan berusaha memperbaikinya. Namun, jujur saja, saya bukanlah pribadi yang sempurna. Saya pernah mengalami masa-masa ketika malas belajar, sering menunda tugas, bahkan tidak jarang mencontek saat ulangan. Bagi saya waktu itu, hal-hal tersebut terasa biasa saja, karena hampir semua teman melakukannya. Tetapi, lama-kelamaan saya merasa ada yang salah. Hati kecil saya sering bertanya, “Apakah ini benar? Apa gunanya orang tuaku bekerja keras setiap hari untuk membayar sekolahku, tapi di sekolah perlakuanku seperti ini. Apakah sikap seperti ini mencerminkan diriku sebagai pelajar yang setia pada nilai-nilai yang diajarkan di sekolah?”
Suatu hari, pengalaman yang sederhana justru menjadi titik balik dalam hidup saya. Saat SMP, saya pernah ketahuan menyontek oleh guru. Saat itu, saya merasa sangat malu. Guru saya menatap saya dengan tegas lalu berkata, “Kamu kenapa menyontek? Kamu bisa tanpa menyontek. Tapi kamu hanya tidak percaya diri”. Kalimat itu sederhana, tetapi sangat menampar saya. Saya menyadari bahwa alasan saya menyontek bukan karena saya tidak mampu, melainkan karena saya tidak percaya pada kemampuan diri sendiri. Sejak saat itu, kata-kata guru saya selalu teringat di hati, meskipun saya masih berjuang untuk benar-benar meninggalkan kebiasaan buruk itu.
Ketika saya masuk SMA Marie Joseph, saya kembali diingatkan tentang arti pertobatan dalam kehidupan sehari-hari. Guru-guru sering berkata, “Saya lebih menghargai nilai kamu di bawah KKM, dibanding nilai bagus hasil nyontek.” Ucapan itu menguatkan pesan yang pernah saya terima saat SMP. Saya sadar bahwa nilai bukanlah segalanya. Lebih penting dari itu adalah kejujuran dan kesetiaan terhadap proses belajar. Suatu hari di SMA, saya kembali menghadapi ulangan harian. Karena tidak belajar sungguh-sungguh, saya kebingungan melihat soal. Teman di sebelah saya berbisik, “Kok muka lo kebingungan gitu sih? kan tinggal buka Google atau ChatGPT.” Dalam hati, saya bimbang. Biasanya saya akan menerima sarannya itu tanpa pikir panjang. Namun kali ini saya menjawab, “Enggak, gue mau coba kerjain sendiri aja.”
Percakapan singkat itu ternyata menjadi bukti proses bertobatan yang sangat berkesan bagi saya. Memang itu adalah perbuatan yang sederhana. Namun, sejak saat itu, saya mulai lebih berusaha memperbaiki diri. Tidak langsung sempurna, memang. Rasa malas masih sering datang, tetapi saya belajar mengendalikan diri. Saya mulai mengatur waktu belajar, mengerjakan tugas tepat waktu, dan berusaha untuk tidak lagi mengandalkan contekan saat ulangan. Perubahan kecil itu ternyata tidak hanya terlihat di sekolah, tetapi juga di rumah. Suatu malam ketika saya sedang belajar di meja kamar, mama lewat dan berkata, “Tumben kamu kelihatan lebih rajin ya. Biasanya jam segini sudah sibuk main HP atau tidur. Kesamber petir ya?” sambil bercanda gurau. Saya sempat tertawa sebentar lalu tersenyum, “Aku lagi berusaha lebih serius, Ma. Soalnya aku sadar selama ini aku terlalu sering buang waktu dan nggak jujur sama diri sendiri. Aku nggak mau terus begitu.” Mama menatap saya dengan bangga sambil berkata, “Mama senang dengarnya. Pertobatan itu memang dimulai dari hal-hal kecil, Jev. Yang penting kamu konsisten.”
Percakapan singkat itu sangat menguatkan hati saya. Saya sadar bahwa perubahan sikap saya bukan hanya berdampak pada diri saya sendiri, tetapi juga dirasakan oleh orang-orang terdekat. Dari situlah saya belajar bahwa pertobatan sejati selalu memancarkan pengaruh positif. Pesan yang saya dapat dari pengalaman ini adalah:
- Pertobatan tidak harus hal besar, tetapi bisa dimulai dari keberanian mengubah kebiasaan kecil yang salah menjadi benar.
- Kejujuran lebih berharga daripada nilai tinggi hasil mencontek.
- Perubahan diri yang sungguh-sungguh akan membuat kita lebih dekat dengan Tuhan dan juga lebih dipercaya oleh orang lain.
Christy Anabel Siswa Kelas XII IPA 2 Sekolah Marie Joseph Jakarta


